Kitab Tafsir Al-Azhar – Buya Hamka – Gema Insani Press

Rp2,475,000.00 Rp2,227,500.00

Judul Buku: Tafsir Al Azhar
1 Set: 9 Jilid Buku
Penulis: Prof. Dr. Hamka (Buya Hamka)
Penerbit: Gema Insani

Berat: 13 kg

Harga Rp. 2.475.000

SKU: EBS-GIP-TAAZ Category: Tags: ,

Description

Kitab Tafsir Al-Azhar merupakan salah satu buah karya terbaik dari ulama anak bangsa Indonesia yaitu Buya Hamka, yang nama aslinya adalah Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Buku Tafsir Al-Azhar Ini terdiri dari 9 jilid buku hard cover, diterbitkan oleh Gema Insani Press.

Sinopsis Kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Azhar karya Prof. Buya Hamka penerbit Gema Insani Press

Kitab Tafsir Al-Azhar merupakan kitab tafsir yang ditulis oleh ulama terkenal Indonesia yaitu Buya Hamka. Dalam penyusunan Tafsir al Azhar Buya HAMKA menggunakan metode tahlili (analitis) tafsir Al-Quran dengan Al-Quran tafsir Al-Quran dengan hadits pendapat sahabat dan tabiin tafsir dengan tafsir muktabar penggunaan syair menggunakan analisis bilmatsur menganalisis dengan kemampuan analisis sendiri dan disusun tanpa membawa pertikaian antar madzhabTafsir al-Azhar menitikberatkan penjelasan ayat-ayat Al-Quran dengan ungkapan yang teliti menjelaskan makna-makna yang dimaksud dalam Al-Quran dengan bahasa yang indah dan menarik dan menghubungkan ayat dengan realitas sosial dan sistem budaya yang ada.

Buya HAMKA membicarakan permasalahan sejarah sosial dan budaya di Indonesia. Beliau juga mendemonstrasikan keluasaan Pengetahuan menekankan pemahaman ayat secara menyeluruh (mengutip ulama-ulama terdahulu) mendialogkan antara teks Al-Quran dengan kondisi umat Islam saat Tafsir al-Azhar ditulis.

Biografi Buya Hamka, penulis Tafsir Al-Azhar

Seperti dikutip dari wikipedia, Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, pemilik nama pena Hamka (lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia melewatkan waktunya sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Ia terjun dalam politik melalui Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif dalam Muhammadiyah sampai akhir hayatnya. Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar doktor kehormatan, sementara Universitas Moestopo, Jakarta mengukuhkan Hamka sebagai guru besar. Namanya disematkan untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah dan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.

Dibayangi nama besar ayahnya Abdul Karim Amrullah, Hamka sering melakukan perjalanan jauh sendirian. Ia meninggalkan pendidikannya di Thawalib, menempuh perjalanan ke Jawa dalam usia 16 tahun. Setelah setahun melewatkan perantauannya, Hamka kembali ke Padangpanjang membesarkan Muhammadiyah. Pengalamannya ditolak sebagai guru di sekolah milik Muhammadiyah karena tak memiliki diploma dan kritik atas kemampuannya berbahasa Arab melecut keinginan Hamka pergi ke Mekkah. Dengan bahasa Arab yang dipelajarinya, Hamka mendalami sejarah Islam dan sastra secara otodidak. Kembali ke Tanah Air, Hamka merintis karier sebagai wartawan sambil bekerja sebagai guru agama sementara waktu di Medan. Dalam pertemuan memenuhi kerinduan ayahnya, Hamka mengukuhkan tekadnya untuk meneruskan cita-cita ayahnya dan dirinya sebagai ulama dan sastrawan. Kembali ke Medan pada 1936 setelah pernikahannya, ia menerbitkan majalah Pedoman Masyarakat. Lewat karyanya Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, nama Hamka melambung sebagai sastrawan.

Selama revolusi fisik, Hamka bergerilya bersama Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) menyusuri hutan pengunungan di Sumatera Barat untuk menggalang persatuan menentang kembalinya Belanda. Pada 1950, Hamka membawa keluarga kecilnya ke Jakarta. Meski mendapat pekerjaan di Departemen Agama, Hamka mengundurkan diri karena terjun di jalur politik. Dalam pemilihan umum 1955, Hamka dicalonkan Masyumi sebagai wakil Muhammadiyah dan terpilih duduk di Konstituante. Ia terlibat dalam perumusan kembali dasar negara. Sikap politik Maysumi menentang komunisme dan gagasan Demokrasi Terpimpin memengaruhi hubungannya dengan Sukarno. Usai Masyumi dibubarkan sesuai Dekret Presiden 5 Juli 1959, Hamka menerbitkan malalah Panji Masyarakat tetapi berumur pendek, dibredel oleh Sukarno setelah menurunkan tulisan Hatta—yang telah mengundurkan diri sebagai wakil presiden—berjudul “Demokrasi Kita”. Seiring meluasnya pengaruh komunis, Hamka dan karya-karyanya diserang oleh organisasi kebudayaan Lekra. Tuduhan melakukan gerakan subversif membuat Hamka diciduk dari rumahnya ke tahanan Sukabumi pada 1964. Ia merampungkan Tafsir Al-Azhar dalam keadaan sakit sebagai tahanan.

Seiring peralihan kekuasaan ke Suharto, Hamka dibebaskan pada Januari 1966. Ia mendapat ruang pemerintah, mengisi jadwal tetap ceramah di RRI dan TVRI. Ia mencurahkan waktunya membangun kegiatan dakwah di Masjid Al-Azhar. Ketika pemerintah menjajaki pembentukan MUI pada 1975, peserta musyawarah memilih dirinya sebagai ketua. Namun, Hamka memilih meletakkan jabatannya pada 19 Mei 1981, menanggapi tekanan Menteri Agama untuk menarik fatwa haram MUI atas perayaan Natal bersama bagi umat Muslim. Ia meninggal pada 24 Juli 1981 dan jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.

Dapatkan Kitab Tafsir Al-Azhar ini di Toko Buku Islam Online Murah Terlengkap, dan dapatkan buku-buku Islam lainnya hanya di Buku.elfatica.com.

Untuk pemesanan buku via SMS/WA silahkan ketik dengan format: pesan #kode produk #jumlah #nama #alamat lengkap, dan kirim ke 085655298822 / 085791728560. Kami akan mengkonfirmasi ketersediaan dan harga total termasuk ongkos kirim yang harus dibayar.

Additional information

Weight 13 kg

There are no reviews yet.

Only logged in customers who have purchased this product may leave a review.